Minggu, 21 Februari 2021

Volume 1 Chapter 1

Kumo Desu Ga, Nani Ka Bahasa Indoneisa

Cover LN Kumo Desu ga Nani ka Indonesia Vol 1 Chap 1
Ilustrasi LN Kumo Desu ga Nani ka Indonesia Vol 1 Chap 1
Illustrasion 2 LN Kumo Desu ga Nani ka Indonesia Vol 1 Chap 1

Daftar Anggota Kelas LN Kumo Desu ga Nani ka Indonesia Vol 1 Chap 1

  • (1) DIMULAI DENGAN SEBUAH LEDAKAN

Gwaaah!

Barusan aku mencoba untuk berteriak, tapi aku bahkan tidak dapat mengerang.

Apa tubuhku hancur sampai seburuk itu?

Oke, tenang.

Aku tidak merasa sakit.

Hal terakhir yang aku ingat adalah sesuatu mendadak meledak, penderitaan dari rasa sakit amat besar yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah Kelas Sastra Klasik.

Aku mungkin pingsan, tapi saat ini tidak ada bagian dariku yang terasa sakit.

Walau demikian, meski saat aku mebuka mataku, segalanya hitam gelap. Aku tidak tahu dimana aku.

Faktanya, aku tidak dapat bergerak sama sekali, seperti ada sesuatu yang membungkus seluruh tubuhku.

Tidak, aku tidak bisa menebaknya. Aku benar-benar tahu. Aku benar-benar terjebak dalam sesuatu,  seperti sebuah material yang keras.

Aku dapat sedikit mendengar suara-suara gemerisik dari luar.

Oke, ada yang sedang terjadi? Apa aku sedang diculik?

Tidak, mari berfikir logis.

Apa yang bakal didapatkan dari menculik cewek ampas sepertiku?

Yah, terlepas dari tidak meyakinkannya situasi ini, aku hanya perlu keluar.

Saat itu lah aku mendengar suara KRAK yang keras.

Oh-ho! Ketika aku mendorong sesuatu yang menyelimutiku, benda tersebut mulai retak.

Okeh, waktunya menyelesaikan kerjaan dan keluar dari sini!

Memberikan kekuatan yang lebih, aku menerobos keluar, berusaha mulai dari kepala. Sweet Freedom!

Pandangan di depanku penuh dengan laba-laba.

Wuuuuuh?! Kenapaaaaaaa?! Ewww!!

Apa-apaan pasukan laba-laba ini?! Um, permisi, tapi kenapa mereka semua sebesar diriku?! Menjijikkan, lebih banyak dari mereka terus keluar dari sesuatu yang terlihat seperti telur! Itukah sumber suara gemerisik sebelumnya?!

Secara insting, aku melesat kabur. Kakiku menabrak sesuatu, dan aku berbalik untuk melihat.

Hmm?

Apakah…ini? benda dimana aku merangkak keluar barusan? Uh… kenapa itu terlihat seperti telur tempat para laba-laba itu muncul? Tidak, tidak hanya terlihat sama-itu memang adalah benda yang sama, bukan?

Aku lihat ke diriku secara cermat. Leherku tidak bisa digerakan. Meski demikian, di ujung pengelihatan, aku dapat melihat sesuatu yang ternyata adalah kaki-kakiku.

……. Kaki laba-laba.

Oooooooke, jaaangan paaaaaniiiiiik!!!

I-ini tidak seperti apa yang aku pikirkan, bukan?! Benarkah ini?! Hal yang super-populer di internet saat ini?!

Tydak! ini mustahil!!

Ini tidak mungkin terjadi, kan? Tolong katakan ini tidak benar terjadi!

Aku melirik kebawah lagi. Ada kaki-kaki tipis seperti milik laba-laba, menggeliat di sekelilingku.

Fokuss, aku mencoba menggerakkan mereka. Kaki laba-laba tersebut bergerak sesuai keinginanku.

Yep. Aku harus menghadapi fakta.

Tampaknya, aku telah bereinkarnasi sebagai laba-laba.

 

Tidak mungkin.

Namun ketika aku mulai menghadapi kenyataan, aku mendengar suara-suara mengerkah. Suara keras yang mengganggu.

Hmm.

Tak ada gunanya mengabaikan kenyataan. Saat ini di depanku ada sekumpulan pasukan laba-laba, kemungkinan mereka saudara-saudaraku. Suara apapun itu, itu mungkin datang dari mereka.

Aku perlahan mencoba memahami situasi di depanku. Di sana, salah satu laba-laba sedang memakan laba-laba lainnya secara berisik.

Aaaack! Apa yang mereka lakukan?! Yang benar saja, mereka memakan satu sama lain? Kanibalisme?!

Saatku lihat, saudara-saudariku telah memulai pertumpahan darah dalam kompetisi sengit untuk bertahan hidup.

Nggak, nggak, nggak! Ini buruk, ini buruuuk!

Kenapa kita harus berkelahi satu sama lain seperti ini, saudara-saudariku?! Ah, benar-untuk makanan. Mungkin mereka lapar. Bicara soal makan, aku juga butuh sesuatu untuk dimakan.

HUH?! Itu adalah pemikiran yang menakutkan.

Akal sehatku hilang untuk sementara. Di medan pertarungan seperti ini, seorang gadis SMA yang polos sepertiku dapat menjadi korban para pria jahat dalam sekejap! Dalam hal kenyataan dan juga kiasan!

Disaat seperti ini aku harus dengan cepat.

Bertarung? Nggak bakal.

Aku secara alami anak rumahan. Tidak mungkin aku bisa melawan sesuatu yang kejam dan menjijikkan. Ah. Aku baru ingat bahwa seperti itulah aku sekarang.
TL Note : Baru sadar njir bahwa dia laba-laba wkwwk

Oke.

Daripada membuang waktu memikirkan hal yang tidak berguna, aku lebih baik segera pergi. Namun ternyata hal itu sedikit terlambat. Daratan sedang bergetar dengan buruk di bawah kakiku. Sekarang apa?! Suara dan getaran itu datang dari belakang. Berbalikan badanku, aku melihat seekor laba-laba raksasa yang sangat besar.

Ooh, apakah itu Ibu? Atau mungkin Ayah?

Ahh.. terserahlah..

Aku kebingungan lagi. Sungguh, kenapa dia besar sekali?! Laba-laba ini puluhan kali lebih besar daripaka aku.

Mungkin aku mengingat sesuatu yang salah, tapi aku sangat yakin bahwa tidak ada laba-laba yang sebesar ini sebelumnya di Bumi!

Ah.

Ilustrasi laba-laba LN Kumo Desu ga Nani ka Indonesia Vol 1 chap 1
 Dalam sekejap, laba-laba raksasa tersebut menusuk yang kecil dan menelannya.

Seperti sedang memakan makanan ringan.

Et tu*, Ibu…?!

Yah, akanku pikirkan ini nanti. Untuk sekarang, tujuanku adalah keluar dari sini secara aman dan berusaha bertahan hidup!

Aku berlari secepat mungkin. Sampai aku merasa sangat lelah dan tak bisa bergerak lagi barulah aku merasa tenang. Beruntungnya, saat aku berbalik untuk memeriksa, tidak ada yang mengikutiku.

Oofohh, aku pikir aku akan mati. Akan sangat konyol jika aku terbunuh setelah baru hidup beberapa menit.

Eniwei… Sekarang aku mulai sedikit sadar, aku punya banyak hal yang harus dipikirkan.

Pertama-tama, kenapa aku bisa mati?

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak tau pasti apakah aku sudah mati.

Aku cuma memutuskan sendiri bahwa aku sudah mati dan bereinkarnasi menjadi laba-laba, tapi aku tidak benar-benar ingat bagaimana aku bisa mati.

Cukup yakin ingatan terakhirku saat guru sastra, Bu Oka, sedang membacakan buku pelajaran dengan lantang.

Aku sedikit tertidur tiba-tiba aku merasa sakit di sekujur tubuhku, dan kemudian aku tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu.

Jika aku benar-benar mati, kemungkinan disebabkan oleh rasa sakit misterius itu, akan tetapi…

… aku tidak tahu apa penyebab itu semua.

Bagaimanapun juga, kesimpulan yang paling masuk akal adalah aku sudah mati untuk saat ini dan bereinkarnasi menjadi laba-laba.

Selain itu, mungki juga aku masih hidup, dan jiwaku saat ini sedang merasuki seekor laba-laba, atau apapun itu.

Mungkin tubuh asliku sedang dalam keadaan koma, terbaring di rumah sakit saat ini.

Atau yang lebih gila lagi: Mungkin aku bukan aku sama sekali, hanya orang asing yang kebetulan memiliki ingatan dari orang lain.

Mungkin diriku yang asli sedang duduk di kelas seperti biasanya, saat ini.

Yah.

Sepertinya tidak ada cara bagiku untuk bisa tau dengan pasti. Bagaimana aku dapat membuktikan jatidiriku yang sebenarnya?

Aku akan berhenti menyemburkan omongkosong seperti “Aku berpikir maka aku ada” dan sebagainya.

Selain itu, kesimpulan paling mungkin dari bukti yang ada adalah ide konyol bahwa aku telah bereinkarnasi, jadi mungkin lebih baik aku juga membuang akal sehatku.

Pokoknya, kesampingkan dulu hal itu sekarang.

Pada saat ini aku hanya akan menerka bahwa faktanya aku adalah diriku yang asli hingga terbukti sebaliknya.

Jadi, sekarang ini aku adalah laba-laba. Tidak ada lagi yang dapat menyangkal hal itu.

Disaat aku kabur, aku melompat dan melompat dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh manusia.

Jadi jika aku adalah laba-laba, lalu raksasa yang aku lihat tadi apa?

Hmm.

Melihat kondisinya, mungkin benar dia adalah salah satu orang tua laba-labaku? Aku tidak tahu secara spesifik tentang bagaiman kehidupan laba-laba, tapi di alam liar aku kira bukan hal yang tidak biasa untuk seekor serangga memakan anaknya sendiri. Laba-laba yang lain jelas kanibal sejak lahir, tidak heran kalau induknya memakan anak-anaknya bukanlah hal yang mengejutkan.

Jika benar laba-laba raksasa itu adalah salah satu orang tuaku, aku penasaran apakah suatu saat nanti aku akan menjadi sebesar itu juga?

Memikirkannya membuatku merasa pusing.

Oke, lupakan bagian itu. Kembali ke laptop.

Mari kita lihat. Sungguh, ada suatu hal yang aku khawatirkan.

Lebih Tepatnya, fakta bahwa aku adalah seekor monster.

Keseluruhan genre ‘reinkarnasi’ sangatlah populer di web novel dan semacamnya saat ini, aku kira bukanlah genre yang asing.

Maksudku, bereinkarnasi sebagai monster.

Jadi pertanyaannya adalah : Apakah aku ini spesies bumi normal, atau ini sama sekali bukan bumi melainkan dunia pararel, dimana aku terlahir sebagai mahluk buas ?

Dilihat dari laba-laba raksasa sebelumnya, perkiraanku lebih condong ke arah yang kedua, tapi jika begitu kemungkinan untuk bertahan hidup di sini akan sangat sulit.

Percuma. Aku tidak punya cukup informasi untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Apakah ini Bumi atau bukan? Aku monster atau hanya laba-laba biasa? Jika ini dunia yang berbeda, maka ini dunia macam apa?

Terlalu banyak hal yang ingin aku ketahui, namun aku tidak tahu cara untuk mengetahui itu semua.

Ahh, jika saja ini sebuah novel atau sejenisnya. Aku mungkin akan memiliki sebuah skill Appraisal yang membantuku mencari tahu…

<Jumlah skill poin yang dimiliki: 100. Jumlah skill poin yang dibutuhkan untuk skill [Appraisal LV 1]: 100. Dapatkan skill?>

Whoa. Apa? … Benarkah? Sebuah suara seperti robot yang tak beremosi tiba-tiba menggema di kepalaku. Sungguh sangat mengejutkan.

Pertama, bahwa aku benar-benar mendengar sebuah suara.

Kedua, bahwa “skill” itu sesuatu yang nyata disini.

Jelas, tidak ada hal semacam ini di Bumi, dan aku tidak pernah mendengar suara-suara di dalam kepalaku sebelumnya.

Jadi apa artinya ini bukanlah Bumi? Mungkin, iya.

Aku pikir ini memberi sedikit bukti pada teori kalau “Aku ini adalah monster”.

Menjadi monster di dunia pararel sepertinya resep menuju kematian, tapi ayo lupakan itu.

Tidak, tidak, tidakk..

Terlebih penting lagi, hal ini sangat nyata. Skill Appraisal terntata nyata! Whoo-hoo! Mantap! Ini menjadi menarik. Akhirnya mulai terasa seperti cerita fantasy yang layak! Jelas, jawabku adalah “IYA!”

<Mendapatkan [Appraisal LV 1]. Skill poin tersisa: 0.>

Ini menyedot habis skill poinku, tapi kuputuskan untuk tidak perlu khawatir akan hal itu untuk saat ini.

Lupakan! Tentang! Hal itu!

Ini waktunya menggunakan skill Appraisal baruku untuk memeriksa lingkungan sekitar!

Aku mengambil batu terdekat secara acak, mencoba fokus berpikir [Appraise].

Berhasil! Ini bekerja, informasi mengalir ke dalam pikiranku.

<Batu>

…Hah? Hanya begitu?

Tidak, tidak, tidak, tidak..

Ini pasti karena batu ini tidak memiliki informasi yang penting karena memang ini hanyalah batu biasa! Kali ini, aku putuskan untuk mencoba kemampuanku ke sebuah tembok. Mungkin saja akan memberitahuku sesuatu tentang area diamana aku berada. Jika aku dapat mengetahui nama area seperti “Gua bla-bla-bla” dan sedikit penjelasan atau semacamnya, aku akan merasa jauh lebih baik.

<Tembok>

……….Aku sempat terdiam sejenak.

Aku harusnya mempertimbangkan fakta bahwa nama skill dan juga level yang ditunjukan, [Appraisal LVL 1].

Untuk semua maksud dan tujuannya, Ini tampaknya sebuah skill level 1 tidak akan memberiku hasil yang berguna.

Mungkin juka menaikan levelnya akan meningkatkannya, tapi aku sudah menggunakan semua skill poinku.

Argh! Aku tidak percaya aku menghabiskan semua skill poinku hanya untuk kemampuan yang tidak berguna!

Aku tidak tahu skill apa saja yang tersedia, namun mungkin saja ada kemampuan yang berguna di level 1!

Tidak, aku harus melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Jika skill Appraisal di level 1 sepeti ini, pastinya skill lain yang selevel juga sama-sama tidak berguna. Yah, ayo berpikir demikian. Jika tidak, aku tidak akan bisa menanggung hidupku lagi.

Ugh. tidak mungkin~

Sampai di sini, aku berfikir untuk meng-Appraise diriku sendiri.

<Laba-laba Tanpanama>

Hmm? Aku tahu hasilnya akan “Laba-laba”, tentu, tapi kenapa juga “Tanpanama”?

“Aku seekor laba-laba yang saat ini tak punya nama.” Apa ini semacam Natsume Souseki?

Maksudku, aku punya nama di kehidupanku sebelumnya, namun sepertinya saat ini tidak lagi, sejak aku menjadi seekor laba-laba.

Lebih baik aku singkirkan dulu kemampuan Appraisal tak berguna ini. Lagipula hanya akan menambah jumlah misteri yang ada.

Seperti skill poin yang

 

 kugunakan untuk mendapatkan skill Appraisal. Mungkin, aku bisa mendapatkan lebih banyak skill dengan menyimpan banyak skill poin. Meski aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya.

Antara level, skill, dan skill poin, dunia ini terasa mirip seperti video game.

Maksudku, ini bisa saja jadi menyenangkan, bukan?

Meskipun aku tidak tahu jika aku bisa bersenang-senang saat ini.

Terserahlah. Aku mulai merasa lapar.

Tidak ada gunanya berkeliaran di tempat yang sama selamanya, jadi aku harusnya segera bergerak dan melihat-lihat apa aku bisa menemukan sesuatu untuk dimakan.

Aku pikir aku hanya akan berjalan-jalan sebentar, namun gua ini SANGAT besar!

Ini relatif terhadap ukuran tubuhku, tapi langit-langitnya sangat tinggi sampai tidak bisa melihat apapun, dan lebarnya juga sama konyol.

Setidaknya, bebatuan yang tersebar acak membantuku memberikan sedikit variasi, tapi tetap saja ini sangatlah besar untuk ukuran sebuah gua. Pada akhirnya, aku menemukan jalan bercabang.

Memanjat keatas batu yang cukup besar, aku mencoba menyipitkan mata untuk melihat jalan didepan. Ada sesuatu di sana…! Dari apa yang dapat aku pahami, itu adalah sekelompok monster sedang berkeliaran.

<Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Rusa> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Kelelawar> <Serigala> <Serigala> <Serigala> <Serigala> <Serigala> <Serigala>…

Awouch! apa ini?! Skill Appraisalku bodohku lepas kendali atas kemauanya sendiri, karena ledakan informasi dadakan itu membuat kepalaku sakit.

Maksudku, mereka memang seperti rusa jika dilihat dengan seksama, tapi aku tidak ingat rusa di duniaku mempunyai tanduk-tanduk tajam mengkilat semacam itu. Dan kelelawar terbang berkeliaran di udara lebih terlihat seperti hewan pengerat mengerikan yang ditumbuhi sayap iblis. Serigala, paling tidak, terlihat normal… kecuali mereka memiliki enam kaki.

Haruskah aku lewat sini? Ya, benar. Aku hanyalah bayi laba-laba kecil. Tingkat kesulitannya terlalu tinggi.

Aku diam-diam turun dari batu.

Jadi… disini ada monster yang nyata. Ini benar-benar bukan bumi.

Apa lagi jika mereka yang disebut rusa dan serigala memiliki ukuran yang sama dengan di Bumi…

Jangan pikirkan! Jangan pikirkan!

Oke, sekarang?

Di depanku ada segerombolan monster. Di belakangku neraka laba-laba. Apapaan ini? Apa aku sudah diskak mat?

Oke, Oke. Tenang.

Aku pikir hal seperti ini akan terjadi, jadi aku telah mempersiapkan sebuah strategi khusus.

Yah, sebenarnya bukanlah suatu yang hebat. Aku hanya kebetulan menemukan jalan lain yang berbeda sebelumnya. Jalan samping yang lebih kecil akan mudah terlewatkan karena tepat di sebelah jalan yang lebih besar, sebuah lubang kecil di dinding. Namun, diameternya sekitar sepuluh kaki, jadi aku dapat lewat tanpa masalah.

Sebagai catatan, aku masih harus mencari makanan. Semoga saja aku segera menemukan jalan keluar dari gua ini.

Dengan begitu, waktunya berangkat!

Keberangkatan yang penuh kemenangan di langkah kaki pertamaku berjalan dengan baik, namun aku tersesat.

Hoo Mantap. Bisakah aku mengatakannya lagi? Gua ini kelewat sangat besar! Benar-benar dah, apa-apaan dengan labirin sebesar ini?

Kenapa ada banyak sekali jalan bercabang sial?

Berapa banyak, katamu? Aku menyerah menghitung setelah angka sepuluh.

Aku juga bertemu lebih banyak jenis monster. Dan karena aku segera melarikandiri setiap melihat mereka, aku jadi benar-benar lupa darimana aku datang.

Ugh… Ini mustahil~

Jika aku ingin pergi kemanapun di labirin ini, aku sangat membutuhkan peta. Tidak mungkin aku akan segera menemukan jalan keluar jika begini.

Lalu kemudian aku menemukan sesuatu yang sangat gila.

Ada tapak kaki di atas tanah. Jejak kaki manusia.

Aku dapat melihat dengan jelas berpasng-pasang jejak kaki. Yang artinya orang-orang pernah lewati sini. Faktanya, ini adalah sebuah bukti bahwa manusia ada di dunia ini. Pengungkapan besar ini membuatku sedikit emosional.

Akan tetapi sekarang aku melihat sesuatu yang sedikit…tidak, ini lebih menghwatirkan.

Tubuhku jauh lebih besar daripada jejak-jejak tapak kaki ini.

Dilihat dari seberapa besar yang membuat jejak ini, tubuhku setidaknya setinggi tiga kaki…

Nah, aku yakin hanyalah jejak kaki dwarf.

Pasti begitu! Ah-ha-ha!

… Aku tak percaya ini. Tidak, tidak..

Yah….lalu..

Sejujurnya aku mulai curiga ketika aku melihat laba-laba raksasa itu sebelumnya. Bagaimanapun juga, tidak diragukan lagi aku adalah seekor monster. Makasih!

Ugh, aku sudah berusah menghindarinya, namun aku akhirnya harus berhadapan dengan fakta.

Terlahir kembali sebagai seekor laba-laba sudah cukup mengejutkan, tapi aku, seekor monster laba-laba.

Ini kacau. Sangat kacau sampai-sampai beberapa orang mungkin akan putus asa dan bahkan bunuh diri. Aku sendiri tentunya tidak akan mempertimbangkan untuk bunuh diri, tapi ini tetap mengecewakan. Yah, tidak ada gunanya duduk dan merajuk.

Secara dunia ini benar-benar berbeda dari bumi, aku tidak tahu bahaya macam apa yang harus aku hadapi. Untuk satu hal, tidak ada jaminan bahwa tidak akan ada monster raksasa lainnya seperti laba-laba itu. Dan melihat ukuran tubuhku sendiri, monster itu pasti tingginya seratus kaki…

Apakah ada manusia dapat mengalahkan mahluk seperti itu? Manaungkin, bukan? Jika di sini ada boss monster, laba-laba raksasa itu pastilah salah satu darinya.

Jadi aku adalah anak dari boss monster?

Terdengar cukup buruk, bukan?

Sebenarnya, bukankah itu berarti jika aku bertemu orang-orang, mereka akan mencoba membunuhku?

Itu sa-sa-a-ngat mungkin. Sebenarnya, kemungkinan besar hal itu akan terjadi.

Tiba-tiba, aku melihat sesuatu yang tegeletak di dekat jejak kaki.

Apakah itu?

Setelah melihat lebih dekat, aku sadar itu sisa laba-laba yang terpotong-potong.

Yep, spesies yang sama sepertiku.

Wow, pemotongan yang terampil. Ini mungkin dilakukan oleh manusia, huh?

Aku tidak suka hal ini berlanjut kesitu!

Jika aku bertemu manusia, mereka pasti akan membantaiku!

Monster Encyclopedia Small Lesser Taratect LN Kumo Desu ga Nani ka Indonesia Vol 1 Chap 1

Ilustrasi | Chapter List | Chapter S1

0 komentar:

Posting Komentar