Senin, 22 Februari 2021

Volume 1 Chapter S1

Kumo Desu Ga, Nani Ka Bahasa Indoneisa

  • (S1) AKHIR DARI KEHIDUPAN NORMAL

  • Itu benar-benar terjadi di hari biasa. Dimana kamu pergi kesekolah, mengobrol dengan teman, mengikuti kelas, pulang, dan bermain video game, makan malam, mandi, dan tidur. begitulah yang seharusnya terjadi.

    Hari itu, aku mengucek mataku yang masih mengantuk saat berjalan ke sekolah.

    Tadi malam aku terjaga hingga larut karena bermain game online, dan sekarang aku menanggung akibatnya.

    Saat aku sampai disekolah, aku menahan untuk tidak menguap saat memasuki ruang kelas.

    “Pagi”

    “Selamat pagi”

    “Pagi… Ada apa? Kau terlihat lelah, bro.”

    Aku menyapa teman sekelasku, Kyouya Sasajima dan Kanata Ooshima.

    Mereka berdua memainkan video game yang sama sepertiku, jadi bisa dibilang mereka temanku bermain video game.

    “Ya, kalian mungkin tidak akan percaya itu. Aku membuat party dengan Baldie kemarin.”

    “serius?!”

    “Yeah, serius. Karena itu aku begadang.”

    “Tidak mungkin. Kamu serius? Kapan? Setelah aku nge crash?”

    Kanata juga sempat bermain denganku saat masih setengah malam. Tapi dia log out duluan karena dia ingin pergi tidur.

    “Sialan. Kalau aku tahu itu bakal terjadi, aku akan bermain lebih lama!”

    Dia terlihat benar-benar kecewa. Tapi aku cuma mencari party karena dia log out duluan. Jika dia masih bermain, aku mungkin tidak akan pernah sama sekali satu party dengan Baldie.

    “Jadi? Gimana setelah melihat Baldie dari dekat?” Pertanyaan Kyouya mengingatkanku kembali akan tindakan heroik Baldie.

    “Orang itu tidak mungkin seorang manusia, yo,” kataku. “Apakah kamu percaya dia menghindari sihir milik penyihir Besbel dan langsung maju menyerang?”

    “Sial, serahkan pada Baldie. Mereka tidak memanggilnya Skanda untuk lelucon.”

    “Nah, tidak peduli seberapa cepatnya kamu, kamu perlu lengan yang bagus untuk melakukan trik seperti itu. Akhirnya selalu beginii!” Kanata memukul lengannya sendiri saat dia berbicara.

    Memang benar. Bahkan jika aku memiliki status dan perlengkapan yang sama seperti Baldie, aku ragu bisa menyainginya.

    “Ahh… aku ingin terlahir kembali ke dunia game!”

    “Teruslah bermimpi, sobat. Mau grinding beberapa level sehabis sekolah?”

    “Yeah, tentu.”

    “Aku ikut, juga. Ayo berlatih ditempat yang sulit!”

    Tepat setelah percakapan kami selesai, bel sekolah berbunyi, dan kami semua kembali ke meja masing-masing.

    Kami tidak tahu bahwa kami tidak akan pernah bisa menepati janji itu.

    “Hah?”

    Ketika aku duduk dan bersiap untuk memulai pelajaran, aku baru sadar bahwa tempat pensilku tidak ada didalam tas.

    Setelah berfikir sejenak, aku ingat mengeluarkan tempat pensilku untuk menulis beberapa info game di notebook. Aku mungkin lupa memasukkannya lagi.

    “Ah, sial.”

    “Ada apa?” Yuika Hasebe, seseorang yang mejanya disebelahku, menanggapi gerutuanku.

    “Aku lupa tempat pensilku.”

    “Oh, benarkah? Yah, aku kamu bisa meminjam ini.” Hasebe meminjamiku sebuah pensil dan penghapus.

    “Makasih.”

    “Mm-hmm.. Kamu berutang permen padaku.”

    “Ayolah, kamu menagihku?” Aku mengeluh, tapi aku juga tersenyum masam dan melambaikan tangan sebagai tanda terimakasih. Tentu saja, sekarang aku tahu bahwa ini hanyalah sebuah janji lain yang tidak akan pernah bisa kutepati.

    Lalu kemudian, ketika pelajaran sastra Jepang, hal itu terjadi.

    Sangat lelah… Aku berjuang melawan rasa mengantuk yang luar biasa.

    “Baiklah, kalau begitu. Tolongg perhatikan! Berikutnya adalah halaman tigapuluh tujuh buku teks, dimulai dari paragraf pertama. Mari kita lihat… Ayo minta Shinohara-san untuk menerjemahkannya, karena dia membuka handphonenya ditengah pelajaran?”

    “Hah?!”

    Mendengar Namanya, Mirei Shinohara berteriak kecil dan bergegas panik untuk menyembunyikan smartphonenya.

    Disebelah tempat duduk Shinohara; Kengo Natsume menahan senyumnya, tapi dia jelas jelas mengggunakan handphone nya juga.

    “Jangan senang dulu, Natsume-san. Jika Shinohara tidak bisa menjawabnya, lalu kamu yang akan menjawabnya, okaay?”

    Guru kamiBu Kanami Okazaki, meskipun kita semua memanggilkan Bu Okamemperhatikan tangan Natsume juga, yang membuat beberapa orang dikelas terkekeh.

    Wajah Natsume memerah, dan dia cemberut ketika semua orang dikelas yang menertawainya.

    Orang yang tertawa paling keras adalah teman dekat dari Natsume, Issei Sakurazaki, yang sampai membalikkan badannya dibarisan kursi depan hanya untuk menunjuk dan tertawa.

    “Sekaranngg. Harap tenang, semuanyaa. Baik, apa jawabannya Shinohara-san?”

    Pada akhirnya, baik Shinohara maupun Natsume tidak ada yang bisa menjawabnya, dan terjadi tertawaan lagi.

    Suasana kelas menjadi lebih tenang ketika Bu Oka mulai membaca dengan keras.

    Bagiku, suaranya mungkin juga sebagai lagu pengantar tidur.

    Aku tahu jika aku tidak melakukan sesuatu, aku pasti akan segera tertidur, jadi aku melihat ke buku teksku.

    Hampir semua murid lainnya juga melihat ke arah buku teks mereka.

    Sepertinya, mereka sadar jika mereka malas mereka akan berakhir seperti Shinohara dan Natsume.

    Bu Oka biasanya sangat baik dan ramah, tapi jika dia menemukanmu sedang bolos kelas atau bermain-main, dia bisa jadi tidak kenal ampun.

    Sementara itu, mataku terhenti ke murid tertentu.

    Apa yang menarik perhatianku adalah gadis yang duduk di kursi depan kiriku. kami biasa memanggilnya Rihoko, tapi itu bukan nama aslinya.

    Itu adalah singkatan dari “Real Horror” dengan “ko” diakhir yang menjadikan itu nama seorang gadis.

    Dia benar benar menyeramkan, semua kulit dan tulang, dengan wajah pucat dan masam.

    Aku tidak suka ngomongin orang, meskipun begitu, sesuatu tentang dia membuatku tidak nyaman.

    Seolah mengabaikan perjuang melawan rasa ngantukku, dia malah terang-terangan tidur di mejanya.

    Dengan tidak nyaman, aku mengalihkan padanganku dari Rihoko.

    Dan kemudian aku melihat itu. Retakan.

    Aku pikir murid lain tidak ada yang menyadarinya.

    Ditengah-tengah kelas, diatas kepala kami yang normalnya kosong, ada sebuah retakan di udara. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Bukan hanya itu, tapi itu dengan cepat membesar. Sobekan diudara terlihat seperti akan meledak kapan saja.

    Meskipun aku menatapnya secara langsung, aku sangat terkejut sehingga aku tidak bisa melakukan apa-apa.

    Bahkan jika aku bisa melakukan suatu tindakan, itu mungkin tidak akan merubah apa yang akan terjadi…

    Retakan itu terbuka lebar. Diwaktu yang sama, aku merasa sangat, sangat kesakitan.


    Dan lalu akutidak, kita semuamati.
     
     

    0 komentar:

    Posting Komentar