Kumo Desu Ga, Nani Ka Bahasa Indoneisa
Itu
benar-benar terjadi di hari biasa. Dimana kamu pergi kesekolah, mengobrol
dengan teman, mengikuti kelas, pulang, dan bermain video game, makan
malam, mandi, dan tidur. begitulah yang seharusnya terjadi.
Hari
itu, aku mengucek mataku yang masih mengantuk saat berjalan ke sekolah.
Tadi
malam aku terjaga hingga larut karena bermain game online, dan sekarang aku
menanggung akibatnya.
Saat
aku sampai disekolah, aku menahan untuk tidak menguap saat memasuki ruang
kelas.
“Pagi”
“Selamat
pagi”
“Pagi…
Ada apa? Kau terlihat lelah, bro.”
Aku
menyapa teman sekelasku, Kyouya Sasajima dan Kanata Ooshima.
Mereka
berdua memainkan video game yang sama sepertiku, jadi bisa dibilang mereka temanku
bermain video game.
“Ya,
kalian mungkin tidak akan percaya itu. Aku membuat party dengan Baldie kemarin.”
“serius?!”
“Yeah, serius. Karena itu aku begadang.”
“Tidak
mungkin. Kamu serius? Kapan? Setelah aku nge crash?”
Kanata
juga sempat bermain denganku saat masih setengah malam. Tapi dia log out duluan
karena dia ingin pergi tidur.
“Sialan.
Kalau aku tahu itu bakal terjadi, aku akan bermain lebih lama!”
Dia terlihat benar-benar kecewa. Tapi aku cuma mencari party karena dia log out duluan. Jika dia masih bermain, aku mungkin tidak akan pernah sama sekali satu party
dengan Baldie.
“Jadi?
Gimana setelah melihat Baldie dari dekat?” Pertanyaan Kyouya
mengingatkanku kembali akan tindakan heroik Baldie.
“Orang
itu tidak mungkin seorang manusia, yo,” kataku. “Apakah kamu percaya dia
menghindari sihir milik penyihir Besbel dan langsung maju menyerang?”
“Sial,
serahkan pada Baldie. Mereka tidak memanggilnya Skanda untuk lelucon.”
“Nah,
tidak peduli seberapa cepatnya kamu, kamu perlu lengan yang bagus
untuk melakukan trik seperti itu. Akhirnya selalu beginii!” Kanata memukul
lengannya sendiri saat dia berbicara.
Memang
benar. Bahkan jika aku memiliki status dan perlengkapan yang sama seperti Baldie,
aku ragu bisa menyainginya.
“Ahh…
aku ingin terlahir kembali ke dunia game!”
“Teruslah bermimpi,
sobat. Mau grinding beberapa level sehabis sekolah?”
“Yeah, tentu.”
“Aku ikut, juga. Ayo berlatih ditempat yang sulit!”
Tepat
setelah percakapan kami selesai, bel sekolah berbunyi, dan kami semua kembali
ke meja masing-masing.
Kami
tidak tahu bahwa kami tidak akan pernah bisa menepati janji itu.
“Hah?”
Ketika
aku duduk dan bersiap untuk memulai pelajaran, aku baru sadar bahwa tempat pensilku
tidak ada didalam tas.
Setelah berfikir sejenak, aku ingat mengeluarkan tempat pensilku untuk menulis
beberapa info game di notebook. Aku mungkin lupa memasukkannya lagi.
“Ah,
sial.”
“Ada apa?” Yuika Hasebe, seseorang yang mejanya disebelahku, menanggapi
gerutuanku.
“Aku
lupa tempat pensilku.”
“Oh, benarkah? Yah, aku kamu bisa meminjam ini.” Hasebe meminjamiku
sebuah pensil dan penghapus.
“Makasih.”
“Mm-hmm..
Kamu berutang permen padaku.”
“Ayolah,
kamu menagihku?” Aku mengeluh, tapi aku juga tersenyum masam dan melambaikan
tangan sebagai tanda terimakasih. Tentu saja, sekarang aku tahu bahwa ini
hanyalah sebuah janji lain yang tidak akan pernah bisa kutepati.
Lalu kemudian,
ketika pelajaran sastra Jepang, hal itu terjadi.
Sangat lelah… Aku berjuang melawan rasa mengantuk yang luar
biasa.
“Baiklah,
kalau begitu. Tolongg perhatikan! Berikutnya adalah halaman tigapuluh tujuh
buku teks, dimulai dari paragraf pertama. Mari kita lihat… Ayo minta
Shinohara-san untuk menerjemahkannya, karena dia membuka handphonenya ditengah
pelajaran?”
“Hah?!”
Mendengar
Namanya, Mirei Shinohara berteriak kecil dan bergegas panik untuk
menyembunyikan smartphonenya.
Disebelah
tempat duduk Shinohara; Kengo Natsume menahan senyumnya, tapi dia jelas jelas
mengggunakan handphone nya juga.
“Jangan senang dulu, Natsume-san. Jika Shinohara tidak bisa menjawabnya, lalu kamu
yang akan menjawabnya, okaay?”
Guru
kami—Bu
Kanami Okazaki, meskipun kita semua memanggilkan Bu Oka—memperhatikan tangan Natsume
juga, yang membuat beberapa orang dikelas terkekeh.
Wajah
Natsume memerah, dan dia cemberut ketika semua orang dikelas yang
menertawainya.
Orang
yang tertawa paling keras adalah teman dekat dari Natsume, Issei Sakurazaki,
yang sampai membalikkan badannya dibarisan kursi depan hanya untuk menunjuk dan
tertawa.
“Sekaranngg. Harap tenang, semuanyaa. Baik, apa jawabannya Shinohara-san?”
Pada akhirnya, baik Shinohara maupun Natsume tidak ada yang bisa menjawabnya, dan terjadi
tertawaan lagi.
Suasana
kelas menjadi lebih tenang ketika Bu Oka mulai membaca dengan keras.
Bagiku,
suaranya mungkin juga sebagai lagu pengantar tidur.
Aku
tahu jika aku tidak melakukan sesuatu, aku pasti akan segera tertidur, jadi aku
melihat ke buku teksku.
Hampir
semua murid lainnya juga melihat ke arah buku teks mereka.
Sepertinya,
mereka sadar jika mereka malas mereka akan berakhir seperti Shinohara dan
Natsume.
Bu Oka biasanya sangat baik dan ramah, tapi jika dia menemukanmu sedang bolos kelas atau
bermain-main, dia bisa jadi tidak kenal ampun.
Sementara
itu, mataku terhenti ke murid tertentu.
Apa
yang menarik perhatianku adalah gadis yang duduk di kursi depan kiriku. kami biasa memanggilnya Rihoko, tapi itu bukan nama aslinya.
Itu adalah
singkatan dari “Real Horror” dengan “ko” diakhir yang menjadikan itu nama seorang gadis.
Dia
benar benar menyeramkan, semua kulit dan tulang, dengan wajah pucat dan masam.
Aku
tidak suka ngomongin orang, meskipun begitu, sesuatu tentang dia membuatku tidak nyaman.
Seolah mengabaikan perjuang melawan rasa ngantukku, dia malah terang-terangan tidur di mejanya.
Dengan
tidak nyaman, aku mengalihkan padanganku dari Rihoko.
Dan
kemudian aku melihat itu. Retakan.
Aku
pikir murid lain tidak ada yang menyadarinya.
Ditengah-tengah kelas, diatas kepala kami yang normalnya kosong, ada sebuah
retakan di udara. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Bukan hanya itu, tapi
itu dengan cepat membesar. Sobekan diudara terlihat seperti akan meledak kapan
saja.
Meskipun
aku menatapnya secara langsung, aku sangat terkejut sehingga aku tidak bisa
melakukan apa-apa.
Bahkan
jika aku bisa melakukan suatu tindakan, itu mungkin tidak akan merubah apa yang akan
terjadi…
Retakan
itu terbuka lebar. Diwaktu yang sama, aku merasa sangat, sangat kesakitan.
Dan
lalu aku—tidak,
kita semua—mati.
0 komentar:
Posting Komentar