Kumo Desu Ga, Nani Ka Bahasa Indoneisa
Aku dan Katia sedang bermalas-malasan.
Kami berdua telah berlatih di halaman kastil untuk meningkatkan level skill kami.
Sebenarnya, bertiga jika kau juga menghitung Fei.
Bagaimanapun, saat ini kami baru saja selesai dan sedang beristirahat, sambil memandangi bunga-bunga di taman.
“Ahh, itu tadisangat sulit. Statku terkait sihir sudah cukup bagus, tapi statistik fisikku masih memerlukan beberapa latihan.” Karena Sue sedang tidak di sini, Hhari ini Katia berbicara dalam bahasa Jepang.
“Ya. Tetap saja, refleks yang lebih baik daripada kehidupan sebelumnya, betapa mudahnya dan terasa begitu menyenangkan untuk ningkatkatka beberapa kemampuan dengan berlatih.”
“Benar. Dulu semua ini selalu tampak sia-sia ketika kita harus berlari maraton di sekolah dan semacamnya, tapi di sini setiap langkah yang kamu jalankan itu membangun staminamu. ”
Di dunia ini, baik skill dan stat hanya akan meningkat ketika kau menggunakannya.
Karena aku belum bisa naik level, satu-satunya caraku bisa memperkuat statku adalah berlatih cara dengan lama.
Tapi tetap latihan dengan cara lama harus kamu lakukan untuk menjadi lebih kuat.
Itu memang sulit, tapi ketika kau tahu itu akan terbayarkan, itu jauh lebih mudah untuk tetap termotivasi.
“Kau mungkin seorang gadis sekarang, tapi di dalamnya kau tetap lah laki-laki. Secara pribadi, aku tidak punya keinginan untuk berlatih begitu keras. ”
“Kau berkata seperti itu, tapi kau masih tetap berlatih.”
“Yah, aku tidak punya banyak pilihan.”
“Maksudmu?”
“Yah kukira, seharusnya tidak sesegera mungkin sekarang karena aku tidak lagi berada di telur itu atau baru menetas, tapi sebenarnya aku pernah nyaris mati.”
“Hah? Kapan itu? aku tidak tahu.”
“Yah, tentu saja tidak. aku belum pernah mengatakannya kepadamu.”
“Jadi, apa yang terjadi?”
“Kau tahu kan bahwa aku ditemukan di sebuah dungeon yang disebut Great Elroe Labyrinth? Ya, aku dalam bahaya besar saat itu. Aku berada di sarang laba-laba, dan dia mau memakanku.”
TL : Labirin Elroe Besar
“Serius ?!”
“Ya serius. Tapi karena laba-laba itu spesies yang rendah, dia tidak bisa memecahkan cangkang telurku dan akhirnya menyerah.”
“Wah, itu nyaris saja.”
“Kalau begitu, kau bisa mati sebelum kau menetas.”
“Benar. Tidak seperti di Jepang, di dunia ini kau bisa terbunuh kapan pun, jadi kau tidak punya pilihan selain menjadi sekuat yang kau bisa. Selain itu, aku harus segera berevolusi.”
Evolusi akan terjadi ketika monster memenuhi kondisi tertentu. Biasanya, seperti mencapai level tertentu. dan hadir dengan penampilan baru, stat yang lebih baik, dan sebagainya.
“Kau mendengarnya dari Anna, bukan? Jika aku tidak segera berevolusi dari bentuk ini dalam sepuluh tahun atau lebih, dipastikan aku akan segera mati.”
Spesies Fei saat ini adalah monster yang disebut Elroe kolift, yang memiliki umur yang hidup pendek.
Untuk memperpanjang hidupnya, dia harus berevolusi.
Karena itu, dia harus mengalahkan monster lain dan menaikkan level-nya.
Jika dia ingin melakukan itu, maka dia harus menjadi lebih kuat.
Tidak seperti kami, Fei memiliki alasan untuk menjadi lebih kuat.
Itu juga yang menjadi alasan kenapa dia secara sukarela selalu berpartisipasi dalam sesi latihan kami.
“Jadi begitu? Sekarang sudah sampai mana perkembanganmu?”
“Skill Instantaneous, Persistent, Strength, dan Solidity-ku sudah mencapai level 8.”
Aku menggunakan Appraisal Srone di tanganku untuk memeriksa statusku. Itu adalah batu level 9, milik keluarga Katia.
Item ini bisa dianggap sebagai harta nasional, namun Katia dengan santai meminjamnya dari rumahnya. Apa aku harus bertanya-tanya apakah tuan Adipati baik-baik saja dengan itu, tetapi karena ini nyaman, kuputuskan untuk tetap bersyukur dan menggunakannya.
“Skillmu naik begitu cepat, Ya. Apakah itu perbedaan bakat alami atau apa? ”
Katia tampak sedikit frustrasi.
Meskipun kami melakukan semua hal bersama, level skill-ku naik lebih cepat. Di dunia ini, siapa pun bisa menjadi lebih kuat dengan berusaha, tapi kecepatan kemajuannya akan bervariasi masing.
Mereka mengatakan itu karena perbedaan bakat.
“Maksudku, dalam keluarga adipati mereka menyebutku jenius. Bagaimana bisa kau lebih cepat dariku? Kau nge-cheat sialan!”
“Kau juga harus memberiku bakat seperti itu.”
Tidak ada yang bisa kulakukan selain menghindari tatapan iri Katia dan Fei.…
Skill Katia dan Fei juga semakin kuat, tetapi tidak sebanyak peningkatan skillku. Untuk beberapa alasan, Fei punya Fire Resistence dan Petrification Resistence, jadi aku juga agak iri dengan itu. Tapi kupikir dia akan marah kalau aku mengatakan hal itu, lebih baik aku diam saja.
“Ngomong-ngomong, apakah kau sudah menggunakan skill points?”
“Tidak, aku masih belum bisa memutuskannya, aku masih menyimpannya.”
“Oh, aku tahu apa maksudmu. kau ingin menyimpannya sampai ketika itu benar-benar penting, bukan? ”
Skill points dapat digunakan untuk mendapatkan skill baru atau menambah tingkat keahlian skill yang sudah kamu miliki.
Normalnya, orang-orang akan terlahir tanpa memiliki skill points, tapi mungkin karena kami telah bereinkarnasi atau penyebab lainnya, Katia, Fei, dan juga aku sudah memiliki banyak skill points sejak lahir.
“Kau mendapat seratus ribu skill points? Kau sangat curang, bangsat! ”
“Hei, itu sangat jahat dari sebelumnya!”
Aku bahkan benar-benar belum sempat menggunakannya.
Pada awalnya, aku ingin mendapatkan beberapa skill sihir, tapi Anna bilang kepadakum untuk tidak menggunakan sihir, jadi kuputuskan mengikuti sarannya. Dia mungkin menyadari bahwa aku inggin menggunakan skill points, tapi mengambil keuntungan dari itu dan memperoleh skill secara diam-diam sama saja seperti aku mengianatinya.
Sejak saat itu, aku belum menggunakannya.
“Apakah itu berarti kalian berdua telah menggunakan sebagian beberapa skill points?”
“Hanya seratus poin yang dibutuhkan untuk mendapatkan Telepati.”
“Bagaimana denganmu, Katia?”
“… Hanya seribu.”
Jika aku tidak salah ingat, Katia memiliki sekitar 50.000 skill points.
Melihat responnya selama percakapan, aku awalnya berasumsi bahwa dia telah menggunakan semuanya, tapi ternyata dia baru mengunakannya sedikit.
“Apa yang kau dapat?”
“… Aku tidak akan memberitahunya.”
“Apa? Ayo lah, beri tahu kami.”
“… Kau berjanji untuk tidak tertawa?”
“Ya, aku bersumpah. Apa itu?”
“Oh, aku siap tertawa, jangan khawatir.”
“Hmm. Ugh. Terserahlah! Aku mengambil skill Appraisal, puas? ”
Aku tidak tertawa, melainkan aku tampak bingung.
Tanpa pikir, sepontan aku bertukar pandang dengan Fei.
Appraisal seharusnya merupakan salah satu skill yang tidak kau peroleh.
Aku benar-benar ingin tahu kenapa dia mengambil skill itu.
“Kenapa kamu melakukan itu?”
“Aku tidak bisa menahannya! Appraisal adalah inti dari cerita reinkarnasi. Sulit mengumpulkan informasi di dunia baru, bukan? Jadi jika ini adalah novel atau semacamnya, tokoh utama biasanya akan sangat cocok dengan skill Appraisal. aku hanya ingin menirunya itu saja…”
“Tapi Appraisal berada di urutan nomor satu dalam daftar skill yang buruk. Mengapa kamu menghabiskan skill points-mu untuk mendapatkannya, meskipun kau sudah mengetahui itu? ”
“Dengar kawan, saat itu aku tidak tahu! aku masih bayi ketika aku mendapat skill itu! kau ingat betapa sulitnya kita memahami apa pun saat itu, bukan? Jadi tentu saja aku ingin mencoba dan mendapatkan lebih banyak informasi. Dan segera saat aku mulai memikirkan Appraisal, Word of God berbicara kepadaku! Tentu saja aku langsung mengambilnya atas dorongan hati! ”
Ya, itu masuk sangat akal ketika dia mengatakannya seperti itu.
Aku ingat kecemasanku ketika aku masih bayi yang tidak tahu apa-apa.
Tidak bisa memahami apa yang dikatakan orang-orang di sekitarku juga sangat membuat aku stres.
Dan karena Word of God berbicara dalam bahasa Jepang, wajar saja jika kau langsung mempercayainya.
“Jadi, apakah Appraisal seburuk yang mereka katakan?”
“Ya. Menyebalkan sekali. Ini sama sekali tidak berguna kecuali berada di level super tinggi, aku selalu merasa sakit kepala setiap kali aku menggunakannya, dan kau tidak akan mendapatkan keahlian dari Menaksir sesuatu lebih dari sekali kecuali jika sudah cukup lama setelah trakhir kali melakukannya, sangat sulit menaikan level-nya. Aku berusaha melakukan yang terbaik untuk meningkatkan level-nya setiap kali aku memiliki waktu luang, tapi sampai saat ini, aku baru menaikannya ke level 4. Hatiku benar-benar hancur kawan.”
Hanya mendengar ceritanya saja itu sudah menjengkelkan.
Masih memegang Appraisal Stone, aku kembali meng-Appraisal diriku.
Segera setelah aku melakukannya, daftar skill yang tersedia ditampilkan, ditambah jumlah skill points yang diperlukan untuk mendapatkannya.
Aku terus melihatnya aku menemukan skill Appraisal.
“Oh, hei, aku bisa mendapatkan skill Appraisal hanya dengan 100 points.”
“Apa? Yang benar saja?”
Seratus points adalah angka terendah yang diperlukan untuk mendapatkan sebuah skill.
Skill yang dapat diperoleh dengan seratus poin biasanya skill itu sangat tidak efektif atau bisa saja sangat cocok dengan penggunanya.
Fakta bahwa Katia harus menggunakan 1.000 points untuk mendapatkan skill Appraisal yang sama, membuktikan bahwa itu bukan skill-nya yang tidak efektif.
Tentu, itu memang tidak akan berguna pada level rendah, tapi ini bisa menjadi sangt berguna jika dinaikkan sampai ke level yang cukup tinggi. Harga yang sangat murah juga berarti aku sangat cocok dengan skill Appraisal.
Setelah sedikit mersa ragu, akhirnya aku mengambil Appraisal.
Skill points-ku yang tersisa turun menjadi 99.900.
“Aku mendapatkan Appraisal.”
“Apa? Yang benar?” Katia mengulangi pertanyaan itu lagi. “Yah, jangan datang menangis padaku jika kau nanti menyesal nanti.”
“Yah, aku akan mengabaikannya jika aku tidak membutuhkannnya. lagi pula aku masih punya banyak poin.”
“Tidak ada yang suka pria tanpa rencana, kau tahu itu.”
Mulai saat ini, kuputuskan untuk menggunakan sisa skill points-ku hanya di waktu yang penting.
Chapter 9 | Chapter List | Chapter 10
0 komentar:
Posting Komentar