Kumo Desu Ga, Nani Ka Bahasa Indoneisa
Sue dan Klevea sedang berlatih pedang bersama di hadapnku.
Mengambil keuntungan dari tubuh Sue yang masih kecil, Klevea dengan mudah menangkis serangan pedang yang di ayunkan adikku.
Sue masih terus menyerang, tapi dengan pertahanan yang tepat, Kleve menangkalnya dengan mudah.
Gadis kecil menyerang dengan sekuat tenaga, namun tehnik berpedang Klevea yang trampil mengingatkan pada sungai yang mengalir dengan anggun.
Baik dalam penampilan maupun gerakan, keduanya merupakan kebalikan.
Tentu, Sue tidak bisa dianggap lemah, tapi dibandingkan dengan Klevea yang telah berpengalaman dalam pertempuran sebenarnya, skill Sue tidak terlalu membantu.
Tidak terlalu mengejutkan mengingat Klevea memiliki skill Sword Mastery level 7, versi lanjutan dari Swordmanship.
Skill Swordmanship Sue ada di level 6. Jadi, berdasarkan perhitungan sederhana, ada perbedaan 11 level.
Tidak ada cara untuk mengimbangi perbedaan seperti itu.
Meski begitu, skill peningkatat stat sederhana setidaknya bisa memperpanjang pertempuran.
Sue mengaktifkan Magic Warfare dan Mental Warfare secara bersamaan.
Ini adalah skill yang mengkonsumsi MP dan SP untuk meningkatkan stat dasar, dan karena Sue mempunyai begitu banyak MP, Magic Warfare memberikannya peningkatan yang sangat luar bisasa.
Baru-baru ini stat fisiknya juga telah banya meningkat, jadi dia memiliki sedikit keunggulan berdasarkan peningkatan statnya.
Meski begitu, Klevea masih menahan diri untuk tidak menggunakan Mental Warfare. Jika dia juga menggunakannya, maka kemenangan akan semakin memihak padanya.
Bahkan tanpa itu, dia tetap akan menang.
Stat Sue mungkin sedikit lebih tinggi, tapi itu hanya lah hal kecil dibandingkan dengan keunggulan besar Klevea dalam kekuatan dan pengalaman.
Sue tidak punya kesempatan untuk membalikkan keadaan.
Seperti yang yang telah kuperkirakan, Sue mulai kelelahan karena dirinya terus melakukan serangan, dan serangan balik Klevea mengalahkannya.
Terkena Pukulan keras di perut, Sue jatuh ke tanah.
Segera, Anna bergegas menghampirinya dan memberikan sihir pemulihan.
Mengebaskan kotoran dari pakaiannya, Sue berdiri dengan frustrasi yang terlihat dari wajahnya. “Aku sudah kalah.”
“Di usiamu yang sangat muda, kau sudah bisa bertarung seperti tadi Putri, sungguh, bakatmu luar biasa. Kamu pasti akan segera melampauiku.”
“Tidak perlu menyanjungku.”
Ketika aku hendak berjalan ke arah adikku yang sedang cemberut, aku mendengar suara tepuk tangan dari sebelahku.
“Aku sama sekali tidak berpikir itu sanjungan! Kau benar-benar bertarung dengan sangat baik.”
Semua orang di ruangan ini, termasuk diriku, terbelalak terkejut.
Bahkan Klevea dan Anna, termasuk Sue dan aku sendiri, tidak menyadari kedatangannya.
Bahkan ketika dia berdiri tepat di sampingku, aku tidak menyadari sedikit pun kehadirannya.
“Julius!”
“Hei. Apakah aku mengejutkanmu? ” Julius, pangeran kedua sekaligus kakak laki-lakiku dari ibu yang sama, tertawa seolah-olah dia melakukan lelucon.
“Kapan kau kembali?”
“Barusan kemarin. aku inginmenyapamu lebih dulu, tapi antara melihat Ayah, kakak tertua kita, dan semua orang, aku jadi tidak mendapat kesempatan.”
Kakakku beberapa tahun lebih tua dariku, dan dia sudah melakukan banyak pekerjaan di luar kerajaan.
Jadi jarang sekali baginya untuk bisa pukang ke kerajaan seperti ini.
“Sue, aku sudah cukup lama tidak melihatmu dan kau sepertinya semakin bertalenta. kau selalau membuatku takjub, kau berkembang dengan sangat cepat.”
Meskipun Julius berbicara ramah kepada Sue, dia hanya merengut sebagai jawaban. Untuk beberapa alasan, Sue sepertinya tidak terlalu menyukai Julius.
Secara pribadi, aku sangat menyukainya, karena dia jauh lebih bersahabat daripada dua kakak laki-lakiku yang lain.
Lebih dari itu, aku sangat menghormatinya.
Jadi jujur saja, ketidak akuran antara kakak yang kukagumi dan adik perempuan yang kusayangi agak sedikit menggangguku.
“Ayolah, Sue. Haruskah kamu bersikap seperti itu terhadap saudaramu sendiri?”
“Ha-ha, tidak apa-apa. Sue berada di usia yang sulit,” kata Julius penuh simpati.
Jika kau menghitung kehidupanku sebelumnya, secara teori aku lebih tua darinya, tapi mental Julius tampaknya masih lebih baik daripada aku di usianya.
“Bagaimana denganmu, Shun? Ingin berlatih bersama seperti biasanya? ”
“Benarkah?! Ya, ayo!”
Bisa berlatih bersama dengan saudaraku Julius? aku tidak bisa tidak merasa senang.
“Baiklah kalau begitu, aku akan meminjam ini.”
“T-tentu saja.”
Kakakku meminjam pedang latihan dari Klevea, yang sepertinya sedang merasa gugup. Dia tidak pernah segugup ini pada siapa pun sebelumnya.
Kukira itu masuk akal dengan seseorang yang seperti Julius.
“Baik. Apakah kau sudah siap. Datanglah padaku dari mana pun kau mau.”
“Baik!”
Aku segera mengaktifkan Magic Warfare dan Mental Warfare.
Tidak ada gunanya menahan diri melawan kakak Julius.
Aku fokus menggunakan semua kekuatan yang kumiliki.
Lalu aku melesat ke depan, melancarkan serangan diagonal dari bawah.
Kakakku dengan mudah memblokir seranganku.
Meskipun aku menyerangnya dengan sekuat tenaga, dia dengan mudah menghentikan seranganku hanya dengan pedang yang di pegang satu tangan.
Tapi itulah yang aku harapkan dari kakakku.
Dia tidak akan pernah gagal menangkis serangan seperti itu.
Dengan cepat, aku menarik lalu mengayunkan pedangku kembali untuk serangan selanjutnya.
Sekali lagi, dia menghentikanku dengan mudah.
Ini menyenangkan.
Bahkan dengan mengerahkan seluruh kemampuanku sekuat tenaga, aku masih tidak bisa menyentuhnya.
Tidak peduli seberapa cepat atau kuatnya aku mengayunkan pedangku, tidak peduli teknik apa pun yang kucoba, aku tidak bisa menyudutkannya sama sekali.
Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa menembus pertahanannya.
Namun itu lah sebabnya aku merasa beruntung bahwa seseorang yang begitu terampil bersedia berlatih tanding denganku.
Benar-benar sangat menyenangkan.
Namun, tidak peduli seberapa besar usahaku untuk terus seperti ini, pertarungan ini akan segera berakhir.
Sihir dan Mental Warfare-ku sudah mencapai batas.
Aku terengah-engah, kehabisan nafas.
“Sangat bagus. Keterampilan berpedangmu sangat sederhana dan kuat. Sepertinya tidak ada batasan seberapa jauh bakatmu akan berkembang.”
“Ter.. ima ka..sih banyak…”
Aku terengah-engah mengucapkan terima kasih. Terlepas dari betapa lelahnya aku, napas kakakku masih benar-benar terjaga dengan seimbang.
Dia benar-benar luar biasa.
Masuk akal, karena dia seorang pahlawan.
Manusia terkuat di dunia.
Bisakah aku sepertinya suatu hari nanti?
Jika aku memiliki mimpi di dunia ini, itu pasti ingin menjadi sepertinya.
Aku bahkan tidak bisa mendekatinya sekarang, tapi suatu hari, setidaknya aku pasti bisa mengimbangi kakak Julius dalam pertempuran.
Itulah tujuan utama aku.
Chapter 10 | Chapter List | Interlude The Hero and the King
0 komentar:
Posting Komentar