Rabu, 03 Maret 2021

Volume 1 Chapter S5

Kumo Desu Ga, Nani Ka Bahasa Indoneisa

  • (S5) TEMAN SEKELAS KEDUA

  • Aku sudah menghabiskan banyak waktu sendiri.

    Sue telah pergi ke tempat ibunya.

    Karena Sue dan aku tidak sepenuhnya saudara kandung, aku tidak memiliki hubungan dengan ibu Sue. Sebenarnya, ibunya Sue adalah istri raja dan aku terlahir dari salah satu selirnya, sangat masuk akal kalau ibunya Sue tidak terlalu menyukaiku. Jadi ketika adikku bertemu dengannya, aku selalu memastikan untuk tetap menjaga jarak.

    Tentu saja aku ini adalah orang yang cukup peka, dan aku juga sangat menikmatinya waktu sendirianku yang langka.

    Setiap kali aku meninggalkan kamarku, Anna atau Klevea, pelayan lainnya, biasanya akan menemaniku, tapi tidak untuk hari ini.

    Aku tidak sedang menyelinap atau apa pun. aku hanya mengatakan kepada mereka bahwa aku sedang ingin sendirian.

    Anna adalah seorang half-elf yang ahli dalan sihir.

    Klevea adalah mantan ksatria, seorang pejuang tangguh yang berotot sehingga seseorang bisa saja keliru mengira dia pria pada pandangan pertama.

    Aku tidak dapat pergi menyelinap begitu saja bahkan dengan cara apa pun.

    Meskipun menurutnya Anna, secara teknis aku memiliki kekuatan sihir lebih besar darinya, aku tetaplah bukan tandingannya tanpa kemampuan untuk menggunakan sihir dengan maksimal.

    Sihir hanya bisa diaktifkan oleh seseorang dengan Magic Perception, Magic Operation, dan skill-skill sihir.

    Aku bahkan belum memiliki skill sihir, jadi aku tak bisa merapalkan mantra apa pun.

    Untuk mendapatkan skill sihir, kamu memerlukan skill point atau mendapatkannya dengan menggunakan alat yang memiliki kekuatan sihir, seperti Appraisal Stone.

    Aku mempunyai cukup banyak skill points, tapi Anna bilang bahwa ada syarat lain dalam mendapatkan skill sihir.

    Rupanya, ini karena akan berbahaya bagi seseorang yang terlalu muda untuk mendapatkannya.

    Stat fisikku mungkin tinggi untuk ukuran anak seusiaku, tapi masih tidak sebanding dengan seorang prajurit dewasa.

    Dengan kata lain, pada dasarnya aku belum bisa apa-apa. Jadi, bisakah orang lemah sepertiku berkeliaran dengan bebas, bahkan di dalam kastil?

    Jawabannya tidak sama sekali.

    Tak diragukan lagi, ada seseorang yang menjaga dan terus mengawasiku dari balik bayang-bayang, dan aku belum menyadarinya siapa dia.

    Aku berjalan di sekitar kastil dengan Fei di pundakku. Tujuanku adalah tempat latihan di dalam kastil. aku sangat lemah saat ini, tapi jika aku terus berlatih, aku pasti akhirnya akan menjadi lebih kuat. Skill dan stat yang menjadi bukti nyata di dunia ini.

    Jika aku berlatih, level untuk skill atau status apa pun yang kulatih akan meningkat.

    Seperti yang Katia katakan saat kami sedang membaca ensiklopedia skill, jika aku melatih skill stat dasarku, level mereka akan naik.

    Cara yang paling efisien untuk meningkatkan basic skill adalah dengan rutin melakukan latihan fisik sederhana.

    Jadi aku selalu latihan fisik dan latihan beban disini. Di sampingku ada Fei yang sedang meniruku dengan cara yang sama. Apakah dia hanya meniruku atau benar-benar berlatih atas dirinya sendiri, masih sebuah misteri bagiku.

    Fei memang sangat pintar, jadi dia mungkin berlatih dengan keras atas keinginannya sendiri.

    “Wahh.”

    Aku beristirahat, setelah melatih setiap bagian tubuhku.

    Meminum air yang sudah kusiapkan sebelumnya.

    Tapi Fei tidak minum apapun. aku tidak terlalu mengerti tentang fisiologi monster, aku belum pernah melihat Fei minum apa pun.
    TL Note : Mengutip Wikipedia Fisiologi atau ilmu faal adalah salah satu dari cabang-cabang biologi yang mempelajari berlangsungnya sistem kehidupan. Istilah fisiologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu physis dan logos yang berarti alam dan cerita.

    Sembari aku mengambil nafas, aku bersenandung tanpa sadar.

    Itu adalah lagu dari Jepang, bukan dunia ini. biasanya aku menyanyikan lagu itu di karaoke bersama Kanata dan Kyouya…

    Memikirkan itu membuatku bernostalgia.

    “Aku tahu lagu itu.”

    Mungkin itu sebabnya komentar tiba-tiba dalam bahasa Jepang membuatku rindu. Bahkan ketika aku dan Katia sedang bertemu, kami jarang berbicara bahasa Jepang.

    Sontak seketika aku terkejut, melihat sekeliling, tapi aku tidak dapat menemukan dari mana sumber suara tadi.

    “Dibawah sini.”

    Suara itu terdengar lagi, pada saat bersamaan aku merasakan ada yang menarik lenganku.

    Melihat ke bawah, aku melihat Fei bermain-main menggigit lenganku dan menariknya dengan pelan.

    “Jadi, Fei, kamu … Shinohara?”

    “Betul.”

    Setelah sedikit tenang, aku mendengarkan Fei, alias Shinohara, menceritakan kisahnya.

    Tepatnya, dia tidak benar-benar bisa berbicara tapi dia menggunakan skill yang memungkinkannya untuk berkomunikasi dengan telepati. Tampaknya dia menyadarinya ketika kami melihat ensiklopedia skill, dan dia mendapatkannya dengan menggunakan SP-nya.

    “Ah, tentu saja kamu tetap bisa terus memanggilku Fei.”

    “Benar … tentu.”

    Aku sangat merasa canggung.

    Maksudku, seekor monster yang selama ini kuperlakukan sebagai hewan peliharaan sebenarnya adalah mantan teman sekelasku.

    Sejak aku menjadi kecil lagi, kematangan seksualku dan semacamnya telah diatur ulang, tente aku tidak melihatnya dengan cara yang aneh, tapi itu masih memalukan.

    “Ahh, aku masih tidak percaya kau ternyata seorang pangeran, Shun. Harus kuakui, aku sedikit kecewa.”

    “Eh emmm, permisi ?!”

    Sungguh hal yang buruk untuk diucapkan langsung tepat dihadapankmu.

    “Maksudku, aku bereinkarnasi sebagai bayi naga, belum lagi aku menjadi hewan peliharaan pangeran. Jelas secara logis mulai dari sini, suatu saat nanti aku akhirnya berubah menjadi manusia dan menjadi seorang putri, kan?”

    “Tidak tidakk.”

    “Ayolah. Seorang gadis tentu boleh bermimpi.”

    Kau terlalu banyak bermimpi, jika kau bertanya kepadaku.

    “Maksudku, bagaimana mungkin aku tidak mengnginkan bisa seperti itu? kau tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya dilahirkan kembali sebagai sesuatu yang bukan manusia.”

    Aku tidak menyadarinya sampai dia mengatakan itu.

    Benar. Ketika aku bereinkarnasi sebagai seorang bayi, bahkan manusia, aku pun masih panik.

    Derita seperti apa yang dia rasakan selama ini, terlahir kembali sebagai sesuatu yang sepenuhnya berbeda?

    Shinohara benar. Sejak awal aku bahkan tidak bisa memahaminya.

    “Ya … Kau benar, aku minta maaf. Itu pasti sangat sulit bagimu. ”

    “Ya, kurasa begitu. Saat masih berada di dalam telur itu aku bisa mendengar suara dari luar, kau tahu. Jadi aku menghubungkan dengan semua yang kumiliki dan mencoba belajar bahasa. ”

    “Oh, ya, aku juga melakukan itu, ketika aku masih bayi. Tunggu, apakah itu berarti ketika kau meniru setiap hal yang aku lakuka, itu karena kau juga mencoba untuk belajar? ”

    “Ya itu betul! Ahh, awalnya aku kecewa, tapi rasanya lega jika punya teman di sini. ”

    Teman, ya?

    “Oh ya kalau begitu, kurasa aku bisa memberitahumu. Katia sebenarnya adalah reinkarnasi juga.”

    “Apa kau? Serius? ”

    “Ya. Dia adalah Kanata Ooshima.”

    “Apa kau sedang bercanda? Tapi Ooshima kan adalah laki-laki.”

    “Aku tau? Jenis kelaminnya berubah ketika ia bereinkarnasi.”

    “Benarkah? Itu lucu! ”

    “Aku tidak berpikir itu lelucon untuk Kanata.”

    “Ah, kurasa tidak. Oke, aku tidak akan menertawakan… dia, kalau begitu. ”

    Kata-kata itu sedikit mengejutkanku.

    Sejujurnya, aku tidak memiliki kesan pada Shinohara. Di kehidupan sebelumnya, dia seseorang yang suka membully. Dia terus-menerus mengganggu teman sekelas lain yang bernama Wakaba.

    Akar masalahnya adalah Shinohara menyukai kakak kelas yang menyukai Wakaba. Meskipun Wakaba sendiri tidak tahu. Tapi ternyata, ketika Shinohara menyatakan perasaannya kepadannya, dia menolaknya dan menyatakan siapa gadis yang dia sukai.

    Wakaba memang adalah gadis tercantik di kelas … tidak, tapi di seluruh sekolah.

    Alhasil, banyak yang merasa iri kepadanya.

    Dan Shinohara adalah pemimpinnya.

    Dia selalu melecehkan wakaba hampir setiap hari — baik dengan sengaja mengatakan hal-hal kasar tentang dirinya dan menyembunyikan barang-barang pribadinya.

    Wakaba tidak pernah memperlihatkan bahwa dia merasa terganggu olehnya, seperti tidak ada yang terjadi, tapi tetap saja pada dasarnya itu masih pembullyan.

    “Terkejut?”

    Apa yang kupikirkan pasti terlihat dari ekspresi wajahku.

    “Sepertinya, iya.”

    Aku menjawab dengan jujur. kupikir mungkin akan lebih baik seperti itu.

    “Yah, aku punya banyak waktu untuk berpikir ketika aku masih di dalam telur. Kau tahu, tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa aku bukan manusia lagi,  kupikir mungkin aku sedang dihukum. ”

    Kata-kata telepati Fei terdengar sangat menyesali dirinya sendiri.

    “Suka atau tidak, kau tahu? sekarang ini aku adalah peliharaan,  Begitu aku lahir, kupikir aku mungkin harus berusaha untuk melayani pemilikku sebaik mungkin. Bukan berarti aku sengaja mencoba menebus dosa-dosaku, tapi karena itu satu-satunya peluang yang paling mungkin untuk bertahan hidup. Juga sebuah hukuman yang pantas kalau ‘tuanku’ adalah mantan teman sekelasku.”

    “Maaf, kalau kau terjebak denganku sebagai hukumanmu.”

    “Ah-ha-ha! Apakah itu mengganggumu? Aku hanya bercanda.”

    “Itu tidak terdengar seperti lelucon bagiku.”

    “Sudahlah, mulai sekarang. Mari kita coba untuk bersahabat, Master? ”

    Suaranya berisi begitu banyak kata-kata sarkasme manis sehingga aku hanya bisa menghela nafas.

    Jadi, aku telah dipertemukan kembali dengan teman reinkarnasi keduaku.

    Ya, yang kedua.

    Ketika pertama kali bertemu Katia, aku agak curiga.

    Tetapi sekarang setelah aku bertemu yang lain, kecurigaan itu berubah menjadi keyakinan.

    Aku percaya semua anggota kelasku mungkin juga bereinkarnasi di sini.

    Chapter 6 | Chapter List | Chapter 7

     
     

    0 komentar:

    Posting Komentar